Monday, 16 February 2015

PEMBUKAAN 3

Biar nyambung, sebelum baca artikel ini, baca dulu Pembukaan 2
“Pak, kenapa sih baca Al-Fatihahnya harus 25 kali?” kata Bu Nyai kepada Pak Kyai setelah magrib.
“Kenapa? Terasa berat?”
“Gak sih. Cuma biar tahu saja. Agar melaksanakannya bisa lebih mantep, tep.”
Pak Kyai mengerti maksud istrinya.
“Memang tidak ada ketentuan harus sekian kali. Apalagi saling membacakan. Hanya saja ini, kan, surat yang sangat istimewa. Nabi menjelaskan bahwa surat Al-Fatihah sebagai surat yang tidak ada bandingannya, tidak dalam kitab-kitab suci lain tidak pula dalam Al-Quran. Ia adalah Ummul Kitab, bahkan ia adalah Al-Quran Yang Agung itu sendiri.”
“Berarti yang lain bernilai di bawah Al-Fatihah, begitu maksudnya?” Bu Nyai bertanya kritis.
“Bukan begitu. Setiap ayat atau surat memiliki keistimewaan. Dan Al-Fatihah ini memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu satu-satunya surat yang wajib dibaca dalam shalat. Dan satu-satunya surat yang ketika dibaca pembacanya seolah sedang berdialog langsung dengan Tuhan, Allah subhaanahu wata’aala.
Bu Nyai mulai terpana. Tetapi tetap mengejar jawaban atas pertanyaan pertama.
“Terus kenapa 25 kali, kok gak tiga, lima, tujuh atau jumlah lain. Kenapa 25?”
“Setiap orang bisa saja membacanya beberapa kali, terserah.” Pak Kyai melayani pertanyaan istri tercinta dengan sabar. “Saya hanya ingat jumlah Nabi. Jumlah nabi melambangkan proses penyempurnaan Islam. Jadi, Allah menurunkan Islam dalam dua puluh lima tahapan utama.
Kita, kan, tahu Nabi jumlahnya banyak. Namun Al-Quran hanya menceritakan 25 orang. Barangkali yang dua lima ini adalah yang utama. Dan, yang terpenting, penyempurnaan proses risalah yang mereka bawa jatuh pada tahap ke 25, yaitu Nabi Muhammad SAW. Maka saya membayangkan bahwa 25 proses adalah tahapan penyempurnaan yang kita perlukan untuk memantapkan keislaman.
Tapi sekali lagi, ini hanya inisiatif sendiri. Ndak usah dipersoalkan. Karena itu saya tidak pernah minta dan umumkan ke para santri agar mereka membaca Al-Fatihah 25 kali setiap hari, tho? Jadi bisa saja 7, 5, 9 atau sepuluh. Terserah. Setidaknya kita telah membacanya 17 kali setiap hari melalui salat wajib.”
Bu Nyai nampak mulai memahami. Tetapi beliau masih menunggu kata-kata selanjutnya. Pak Kyai nampak belum selesai.
“Di atas semuanya, dan ini yang terpenting,” lanjut Pak Kyai, “Al-Fatihah seperti saya katakan tadi adalah sebuah dialog. Bukan sembarang dialog. Ini adalah Dialog Agung dan personal, antara seorang hamba dan Tuhannya. Melalui hadits Qudsi, Allah sendiri menjelaskan bahwa Al-Fatihah dibagi dua antara diri-Nya dan hamba-Nya ketika membacanya.”
Pak Kyai mendekati sang istri dan duduk pas di sampingnya.
“Agama ini memberi kita jalan paling murah dan mudah. Bacalah Al-Fatihah, resapi maknanya. Jika tidak bisa meresapi pada bacaan pertama, coba lagi yang kedua, ketiga, demikian seterusnya sampai engkau benar-benar merasakan kehadiran dirimu di hadapan Tuhan.”
Pak Kyai mengambil kitab Shahih Muslim, salah satu diantara sekian kitab yang selalu tergeletak di atas mejanya. Ia membaca hadits nomor 395 dan menerjemahkannya dengan agak bebas.
“Coba mari kita resapi bersama dialog berikut:
1_2
Ketika sang hamba berucap: “Alhamdulillah rabbil aalamiin (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).”
Tuhan berujar: “Hamba-Ku sedang memuji-Ku”

1_3
Ketika hamba memuji: “Arrahmaanirrahim (Yang Maha Menyayangi dan Mecintai, sepenuhnya dan seutuhnya).”
Tuhan berkata: “HambaKu sedang memuliakan-Ku.”

1_4
Ketika hamba berkata dengan rendah hati: ”Maaliki yaumiddin (Penguasa hari berbangkit).
Tuhan menimpali: “HambaKu sedang meninggikan namaKu, atau hambaKu menyerahkan segala urusannya kepadaKu).”

1_5
Ketika hamba berikrar dengan sepenuh jiwanya: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya dariMu kami memohon pertolongan).”
Tuhan menegaskan: “Ini adalah kesepakatan antara Aku dan Hambaku, dan hambaKu akan mendapatkan apapun yang dia minta.”

1_6
1_7
Ketika hamba memohon: “Ihdinas shiraathal mustaqiim. Shiraathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladhdhaalliin (Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan lurus, jalan orang-orang yang Kau anugrahi nikmat, bukan jalan orang yang Kau murkai).”
Tuhan berjanji: “Ini khusus untuk hambaKu. Dan kupastikan bagi hambaKu apa yang dia minta.”
Pak Kyai menyelesaikan pembacaan hadits yang juga dimuat dalam beberapa kitab kumpulan hadits lain itu. Dia memegang tangan istrinya yang putih bersih bukan karena perawatan khusus tapi karena rajin mencuci dan memasak sendiri buat Pak Kyai dan keluarganya itu.
“Ada yang tidak berminat berdialog langsung dengan Tuhannya. Ada yang tidak mau berdialog dengan Sosok yang paling Diagungkan?” Pak Kyai menggugah dengan sebuah pertanyaan.
Bu Nyai tak menjawab. Dia malah memejamkan mata. Diam-diam bacaan Al-Fatihah memenuhi hatinya. Suaranya lirih seolah berbisik. Pak Kyai mengerti. Dia pun diam, membiarkan sang istri menikmati dialognya dengan Sang Maha Agung, Sang Pencipta.
Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sepi. Waktu antara magrib dan isya terasa makin sakral. Lalu Bu Nyai membuka mata, pertanda siap mendengar penjelasan Kyai selanjutnya.
Tapi dia tiba-tiba tersadar. Tangannya ditarik dari genggaman sang suami. “Belum salat isya. Entar batal.”
“MasyaAllaah, segitunya. Entar kan bisa wudu lagi. Lebih sering wudu lebih baik.”
Bu Nyai tak berkutik. Pasrah.
“Di atas semuanya,” lanjut Pak Kyai, “Al-Fatihah seperti dapat kita pahami pada bagian akhir dialog tadi sesungguhnya adalah doa. Sebuah kalimat permintaan terbaik yang diajarkan langsung oleh Allah sendiri. Ia adalah juga ungkapan kerendahan hati, ketundukan di hadapan Allah. Ia adalah pengakuan atas kemahakuasaanNya.
Hanya Dia lah tempat meminta, tempat kembali. Hanya Dialah yang memiliki kekuatan, kekuasaan. Karena itu hanya kepadaNya lah permintaan layak disematkan. Dan, Al-Fatihah adalah doa terbaik yang Allah ajarkan langsung kepada kita. Kita diminta untuk banyak berdoa. Berdoa dan berdoa kepada-Nya.
Maka membaca Al-Fatihah berkali-kali dengan tujuan memuji Allah, berdialog langsung, dan berdoa, tentunya sebuah pengalaman rohani yang tinggi, jika kita bisa lakukan.
Barangkali karena itu pula lah Ibnu Taymiyah membiasakan diri bersama jamaah subuhnya membaca surat Al-Fatihah berulang-kali sehabis shalat subuh sampai matahari terbit, meskipun tidak kita dapatkan satu keterangan dari hadits tentang amalan yang demikian.”
Bu Nyai terkesima. Ia diam. Dia tak memandang suaminya. Hatinya lagi-lagi dipenuhi bacaan Al-Fatihah, berdialog tanpa henti dengan Penciptanya. Pelan-pelan matanya berbinar. Sebutir air mata jatuh meluncur melewati pipinya yang bersih alami.
Kini giliran Pak Kyai yang terpana. Ia meletakkan kembali kitab Shahih Musim itu di atas meja. Seuntai senyum tipis melukis wajahnya yang bersih bercahaya.
Fajar Pertama 2015 di Gili Sudak Lombok

Sunday, 15 February 2015

PEMBUKAAN 2



Oleh: Ustadz Jamaludin Abdullah


“Sudah baca Al-Fatihah buat bapak?” Kyai sebuah pesantren besar di Jawa Timur itu memastikan pada istrinya sebelum pergi.
“Sudah, Pak.”
“Dua puluh lima kali?”
“Dua puluh lima kali.”
Sang Kyai tersenyum. Juga istrinya.
“O ya, anak-anak juga sudah baca buat bapak, kan?”
“Sudah juga. Insya Allah. Bismillah, bapak berangkat saja. Nanti ibu pastikan. Tadi baru lihat sepintas saja.”
“Bapak juga sudah baca buat ibu dan anak-anak, masing-masing dua puluh lima kali.”
“Terimakasih, Pak”
“Terimakasih juga, Bu.”
Mereka bersalaman. Sang instri mencium tangan suami, sang suami mencium kening istri. Lalu melangkah.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam.” Istrinya menjawab dengan suara lembut dan senyum mengembang.
Saling membacakan Al-Fatihah adalah ritual harian keluarga Kyai yang lebih suka dipanggil Bapak oleh keluarganya ini. Dia juga memanggil istrinya dengan ibu seperti masyarakat kebanyakan.
Pun, ketika pesantren akan melaksanakan sebuah rencana, misalnya mengirim santri belajar ke luar negeri, beliau akan berdiri di depan santri-santrinya.
Setelah tujuan kepergian dijelaskan, dan nasihat-nasihat yang memotivasi diutarakan, beliau akan menutup dengan meminta santri yang jumlahnya ribuan itu membacakan Al-Fatihah beberapa kali.
Saat-saat seperti itu suasana terasa sakral. Hening. Hanya suara burung terdengar bersahutan memenuhi masjid pesantren itu.
Doa dan bacaan Al-Fatihah dari keluarga dan dari ribuan santri membuat Kyai merasa optimis dan enerjik. Langkahnya ringan. Kepercayaan dirinya mengembang, seumpama layang-layang yang terbang karena terpaan angin. Ya, surat Al-Fatihah baginya ibarat angin bagi layang-layang.
Al-Fatihah, seperti arti namanya, adalah pembuka, pembuka hari demi hari kehidupan sang Kyai. Al-Fatihah adalah penggedor semesta yang dengannya pintu-pintu langit terbuka dan menghamparkan kepada beliau jalan-jalan kemudahan dalam kehidupan keluarga dan cinta-cita pesantren.
Ada sebuah cerita yang diadaptasi dari hadis riwayat Imam Muslim. Suatu hari Rasululah SAW duduk bersama Jibril ASTiba-tiba terdengar suara gemuruh menggetarkan langit.
“Tahukah engkau, suara apa itu, wahai Rasul yang mulia?” tanya Jibril.
Nabi tidak menjawab, hanya memandang Jibril.
“Sebuah pintu langit terbuka.”
“Pintu langit. Apa yang istimewa?”
“Pintu ini tidak pernah terbuka selama ini. Ini untuk pertama kalinya ia terbuka.”
“Ada apa gerangan, wahai Rûhul Amîn?”
“Sebuah surat suci datang untukmu, wahai Rasul mulia.”
Nabi diam, menunggu kata-kata Jibril selanjutnya.
“Surat Suci ini tidak pernah diberikan kepada seorang pun selainmu. Tidak pula kepada Nabi dan Rasul sebelummu.”
“Surat Suci apakah itu?”
“Al-Fatihah dan beberapa ayat terakhir al-Baqarah.”
Nabi terpana. Sekujur tubunya berkeringat. Jiwa raganya bergetar, seperti langit dan semesta yang gemuruh itu.
Sebuah cerita mengharu biru tentang surat yang penuh karisma. Karena itulah, barangkali, Nabi memberinya beberapa nama indah, antara lain: Ummul Quran (induk Quran), al-Quran al-Adzhim (Bacaan yang Agung), as Sab’ul Matsani (yang dibaca berulang-ulang), as-Syifa’(penyembuh), ar-Ruqyah (penyembuh jiwa). Ada juga ulama yang menamainya al-Kanz, perbendaharaan yang menyimpan kekayaan melimpah.
Pembaca yang budiman, bagaimana kalau kita melantunkan surat yang menjadi inti shalat ini bersama-sama sekarang? Mari kita mulai … lalu baca terjemah maknawiahnya, sebagai berikut.
1_21_3
1_41_5
1_6
1_7

Dengan nama Allah
Yang Maha Mencintai sepenuhnya
Yang Maha Menyayangi seutuhnya

Segala puji bagi Allah
Pengembang, Pendidik, Pemelihara alam semesta

Yang Mencintai (jagat raya dan seisinya)
Yang Menyayangi (para penempuh jalan kebenaran)

Penguasa mutlak Hari Pertanggungjawaban

Hanya untuk-Mu kami persembahkan hidup ini
Dan hanya dari-Mu kami mengharap pertolongan.

Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan lurus
Jalan orang yang Engkau anugrahi kesempurnaan nikmat
Yang tidak pernah membuat-Mu murka,
Dan tidak pula jalan orang yang tersesat.
Ada apa dengan Al-Fatihah hingga menjadi surat yang begitu penting? Sebagiannya akan kita ketahui melalui kisah-kisah berikutnya. InsyaAllah.